BUKAN SEKEDAR JANJI
dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain,
supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
(Yohanes 14:16)
Pagi itu menjadi tonggak sejarah yang penting, ketika ia sedang membereskan jala bersama ayah dan saudara nya, Tuhan Yesus memanggilnya. Ia menjadi salah seorang murid Yesus pertama bersama dua orang bersaudara lainnya. Kebersamaannya dengan gurunya membuat dia tumbuh dewasa dan penuh dedikasi. Dia pastinya pernah berikrar : “aku mau menjadi yang terbaik”, sampai suatu saat dia menyandang predikat murid yang dikasihi Yesus.
Janji bukanlah sesuatu yang berarti tanpa adanya suatu bukti. Suatu petang, di sebuah taman ketika sang guru dikhianati oleh salah seorang murid-Nya, dia termasuk dalam jajaran mereka yang meninggalkan-Nya seorang diri. Kesalahan ini tidak membenamkan dan meluluh-lantakan predikatnya, dia membuktikan masih mengasihi gurunya dengan hadir saat pengadilan dihadapan mahkamah agama.
Predikat sebagai murid terbaik dibuktikannya ketika ia hadir saat gurunya menggantikan kita di atas kayu salib. Murid ini ada dibawah salib-Nya memandang dengan sedih. Puncak predikatnya ini dia buktikan ketika karena nama gurunya dia harus dibuang ke suatu pulau dan di sana Tuhan Yesus memperlihatkan semua yang akan terjadi dan juga keadaan surga. Semuanya ini kemudian ia tuliskan untuk kita dalam bentuk kitab Wahyu yang kita kenal sekarang. Murid ini adalah Yohanes anak Zebedeus.
Kita semua sudah dipanggil oleh guru yang sama seperti murid yang dikasihi dan mengasihi gurunya ini. Barangkali sudah banyak janji untuk menjadi lebih baik, tapi faktanya bagaimana? Tuhan Yesus hanya melihat kemauan murid-Nya untuk berubah, kemudian Dia akan memampukannya untuk menjadi murid sejati, karena di dalam kita ada Roh Kudus yang siap memampukan kita. (paul herwanto)