berandateropongpelangifreeware
 
   

 

Index Teropong

Bangkit Jadilah Terang
Bawa Bodyguard
Belajar Kepada Semut
Bukan Sekedar Janji
God on the Mountain
Halal & Haram
Hamba yang Merdeka
Kasih Identik dengan Penginjilan
Keluar, Bukan Tempatmu
Keterbukaan Awal Pemulihan
Ketika Tuhan Menjawab
Membangun Kepedulian
Mengapa Allah Menciptakan Manusia 1
Mengapa Allah Menciptakan Manusia 2
Mengapa Tuhan Mengutuk Pohon Ara?
Mengubah Masalah Menjadi Mutiara
Menjebol Kemapanan
Menyiapkan Tunas Muda
Pelantikan yang Fenomenal
Pemberian Terbaik
Penginjilan Arwah
Perlukaan Untuk Pemulihan
Power of the True King
Raih Sukses Setelah Gagal
Ulet, Ulet dan Ulet
Menjadi Kepala Bukan Ekor
Lebih dari Pemenang
Logo Baru
Warga Kerajaan Allah
Berkat bagi Orang Percaya
Bertumbuh di dalam Iman
Penyesat ada dimana-mana
Alkitab Menjawab
Kemerdekaan yang sebenarnya
Lembah Kekelaman
Menembus Tembok Tahun 2011
Kemenangan Bersama Yesus
Yesus Ada Di sana
Hamba Yang Setia
Kayu Salib Jaminan Mahkotaku
Kuasa Kebangkitan Yesus
Dari Sorga kembali ke Sorga



 


 

 

LEMBAH KEKELAMAN

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
( Mazmur 23:4)

Dalam Mazmur Daud yang sangat terkenal, dalam ayat di atas kita mendapati adanya kata : ”Lembah kekelaman”. Seringkali kita lebih mengartikan bahwa itu hanyalah sebagai istilah berbagai kesulitan yang harus dilalui Daud semasa hidupnya. Sebenarnya lembah Kekelaman adalah merupakan suatu tempat dalam Alkitab, suatu lembah yang berkelok-kelok tanpa dapat melihat apa yang terjadi atau siapa yang akan menghadang di tikungan berikutnya. Lembah kekelaman merupakan terjemahan bebas dari tempat yang bernama En-gedi (gambar di samping).

Beberapa kali Daud harus melewati wilayah En-gedi ini, yaitu pada saat dia dikejar-kejar oleh Saul dan juga pada waktu menghindar dari kejaran Absalom, anaknya sendiri. Apa yang Daud tuliskan dalam Mazmurnya adalah merupakan pengalaman pribadi, bukan sekedar istilah untuk menggambarkan kesulitan dalam hidup ini.

Dalam Injil Lukas pasal 10, Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan seorang Samaria yang murah hati. Dalam perumpamaan tersebut dikisahkan bahwa ada seorang yang mengadakan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang ini kemudian mengalami musibah, ia jatuh ke tangan perampok yang membuatnya terluka parah. Mengapa harus dari Yerusalem ke Yerikho?

Mengapa Tuhan Yesus mengambil lokasi antara Yerusalem dan Yerikho? Banyak dari kita yang tidak peduli dengan lokasi-lokasi yang dipakai oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaannya. Ah itu kan Cuma sekedar pelengkap cerita saja, supaya lebih menarik . . ., supaya lebih hidup.

Kalau kita mau kritis dengan apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus maka akan mendapati bahwa lokasi yang dipakai Tuhan Yesus bukan sekedar pelengkap, supaya kisahnya lebih hidup. Lokasi antara Yerusalem dan Yerikho, pada jalan itu ada suatu lembah yang harus dilewati, yaitu lembah kekelaman (En-gedi).

Jadi Tuhan Yesus dalam perumpamaan orang Samaria yang baik hati mencoba untuk mengangkat kembali fakta yang telah dikemukakan oleh Daud dalam Mazmur 23. Dia seolah mau membandingkan seseorang dalam Injil lukas ini dengan Daud yang juga beberapa kali harus melewati lembah kekelaman.

Perbedaan yang kontras kita temukan, Daud yang selalu mau berjalan bersama Tuhan, mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dengan mudah dapat melalui lembah kekelaman, akan tetapi apabila hanya dengan kekuatan sendiri maka akan mengalami nasib yang sama dengan seseorang dalam perumpamaan dalam Injil Lukas pasal 10 di atas.

Ada benang merah yang bisa ditarik dari Mazmur 23 ke Injil Lukas 10. Tuhan Yesus meneguhkan apa yang telah dituliskan Daud dalam Mazmurnya . . . . . Apabila kita mau berjalan seperti Daud, maka sekalipun  kita harus melalui   En-gedi atau situasi hidup seperti En-gedi, maka itu bukan masalah karena ada gada dan tongkat Tuhan yang menjagaku, dan itu akan selalu merupakan penghiburanku. (paul herwanto)

 

 

 

www.kemurahanmu.com