KEMERDEKAAN YANG SEBENARNYA
Saya teringat pada sebuah renungan yg dibawakan oleh seorang Pdt dari suatu denominasi, saat peresmian sebuah gereja kecil di Pamanukan - Jabar (Okt'65). Saat itu beliau mengatakan bahwa saat ini kita sbg umat Tuhan di kotak-kotak oleh organisasi gereja yg membuat kita tidak dapat bebas berinteraksi dengan gereja lain, kita ibarat bebek-bebak yang terkotak-kotak oleh kandang. Tetapi ada saatnya nanti, ketika hujan akhir tiba, maka air akan mulai naik dan bebek-bebek akan berenang-renang dengan bebas, lepas dari kotak2 yg membatasinya . . . . . . .
Itu saya dengar 45 tahun yanG lalu, akan tetapi sampai saat ini kita masih melihat bahwa gereja seolah makin meninggikan dinding-dinding pembatas nya. Masing2 merasa diri paling benar, doktrinnya paling benar, sehingga menganggap ajaran lain sesat, tdk Alkitabiah . . . . . . .
Mengapa kita hanya melihat perbedaan yang ada? mengapa kita tidak melihat kesamaan yang justru lebih berharga dan berarti? Bukankah kita memiliki Kepala Gereja yang sama yaitu Tuhan Yesus Kristus? Mengapa kita seolah mau mengadili orang lain? Mungkin dalam benak sebagian besar dari kita mengganggap bahwa yang dimaksud Tubuh Kristus itu adalah terbatas hanya satu gereja tertentu? Betapa sedihnya Tuhan melihat gereja-Nya yang saling bertikai sendiri, Dia menangis . . . . .
Seandainya gereja-gereja mau melupakan perbedaan yang ada, mau bekerja sama dan bergandengan tangan, saling melengkapi semua sumber daya yang ada, ada keterbukaan dalam memberi dan menerima sumber-sumber itu, maka tentulah gereja-gereja khususnya di Indonesia akan sudah berkembang dengan luar biasa. . . . tentulah impian yang merupakan kerinduan Pdt. di atas akan segera menjadi kenyataan, dimana kemuliaan Tuhan meliputi seluruh bangsa Indonesia tercinta, yang beberapa hari lagi akan merayakan kemerdekaannya yang ke 65.
Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk membebaskan diri dari kungkungan pengkotak-kotakan gereja? Tuhan Yesus memampukan kita semua melangkah ke arah kemerdekaan yg sebenar-benar nya.
Bandung, 13 Agustus 2010
paul herwanto